Mereka selalu berkata, “ia adalah seorang wanita dewasa”. Wanita? Bukan! Ia bukan seorang wanita, ia hanyalah seorang remaja perempuan yang tersesat di dunia yang penuh dengan kebohongan. Diluar dirinya ia selalu tersenyum dan tertawa terbahak-bahak, namun tahukah kamu apa yang sedang dirasakannya? Ia menangis terisak-isak, apakah itu karena ia merasa sedih? Terharu? Iba? TIDAK.
Ia tersenyum, tertawa, menangis, karena otaknya menyuruhnya, bukan karena perasaannya. Ia sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Hatinya sudah keras dan diliputi kegelapan, seperti sebuah batu granit yang tenggelam di dalam lumpur hisap. ‘Jika menjadi seseorang yang egois adalah cara untuk menghadapi dunia ini, maka aku akan menjadi salah satunya’ itulah prinsip yang membuat kehidupannya tak bernyawa.
Ia memiliki banyak teman, yes, billions of friends, namun hanya untuk raganya, bukan jiwanya. Ia menutup dirinya dari semua yang menyanyanginya, dari semua yang mencibirnya dan menyakitinya. Ia terlalu takut akan masa lalunya, takut untuk menerima sebuah kenyataan. Ia menatap kedepan, dengan tatapan kosong. Terus berjalan tanpa suatu tujuan yang pasti. Ia tidak meyakiti orang lain, hanya menyakiti dirinya sendiri, memberi hukuman untuk dirinya sendiri. Terkadang ia bertanya, “Untuk apa aku hidup di dunia ini?”
Yes, she is just a teenage girl who lost in the world full of liars.